Sekolah Rakyat Luwu Utara Tampung 1.500 Anak Kurang Mampu dengan Fasilitas Lengkap
AMBARPOST.ID || Di tengah tantangan ekonomi yang masih dihadapi masyarakat, khususnya keluarga prasejahtera, pemerintah menghadirkan terobosan melalui Program Sekolah Rakyat (SR) sebagai upaya memastikan hak pendidikan yang setara bagi seluruh anak bangsa.
Program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ini membuka akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang selama ini kerap terkendala biaya sekolah. Melalui Sekolah Rakyat, mereka tidak hanya memperoleh pendidikan gratis, tetapi juga didukung fasilitas belajar yang memadai.
Kabupaten Luwu Utara menjadi salah satu daerah yang dipercaya melaksanakan program tersebut. Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim, mengungkapkan bahwa Sekolah Rakyat di wilayahnya akan menampung sebanyak 1.500 anak dari kalangan keluarga prasejahtera.
“Luwu Utara dipercaya menjadi lokasi pembangunan Sekolah Rakyat yang akan menampung sekitar 1.500 anak-anak kurang mampu. Seluruh siswa akan disekolahkan secara gratis dengan fasilitas yang disiapkan pemerintah. Total anggaran yang dialokasikan kurang lebih Rp250 miliar, mencakup pembangunan gedung dan penyediaan sarana penunjang pendidikan,” ujar Andi Rahim saat menyampaikan capaian Pemerintah Kabupaten Luwu Utara sepanjang tahun 2025 pada Malam Pergantian Tahun di Rumah Jabatan Bupati.
Ia menjelaskan, Sekolah Rakyat tidak hanya berfokus pada pembinaan anak-anak, tetapi juga menyasar peningkatan kesejahteraan keluarga mereka. Orang tua siswa akan mendapatkan pendampingan dan fasilitas tertentu guna memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.
“Program dari Kementerian Sosial ini tidak hanya membina anak-anaknya, tetapi juga orang tuanya. Tujuannya agar keluarga memiliki kelayakan hidup yang lebih baik,” tambahnya.
Bupati Andi Rahim berharap keberadaan Sekolah Rakyat dapat menjadi salah satu instrumen efektif dalam upaya pengentasan kemiskinan di Kabupaten Luwu Utara yang saat ini masih berada pada angka 10,4 persen, meskipun menunjukkan tren penurunan dari tahun ke tahun.
“Kemiskinan tidak boleh menjadi penghalang bagi mimpi anak-anak kita. Mereka berhak mendapatkan pendidikan dan masa depan yang cerah, sama seperti anak-anak lainnya. Mari kita bergandengan tangan, membuka ruang kepedulian, agar program ini berjalan sukses dan memberi dampak nyata bagi pendidikan tanpa sekat,” pungkasnya.
